THR Tak Sesuai Aturan, Jeritan Karyawan Berkumandang

By Nandar Soemantri 23 Mei 2020, 13:19:39 WIB Rehat
THR Tak Sesuai Aturan, Jeritan Karyawan Berkumandang

Bulan Ramadhan merupakan berkah bagi para umat Muslim. Sebentar lagi, hari kemenangan yang ditunggu pun tiba. Adapun sudah menjadi tradisi kultural di Indonesia apabila menjelang Hari Raya Idul Fitri, para pekerja mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) sehingga pekerja dapat memanjakan keluarga mereka dengan pakaian baru, perlengkapan alat sholat di Hari Raya atau sekedar melepas penat bersama keluarga.

Penyelesaian perselisihan hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja sangat diperlukan demi terciptanya hubungan industrial yang harmonis dan kondusif antara kedua belah pihak.

Dalam sebuah perusahaan, baik itu pengusaha maupun pekerja pada dasarnya memiliki kepentingan atas kelangsungan usaha dan keberhasilan perusahaan. Meskipun keduanya memiliki kepentingan terhadap keberhasilan perusahaan, tidak dapat dipungkiri konflik/perselisihan masih sering terjadi antara pengusaha dan pekerja. 

Demikian keluh kesah salah satu karyawan swasta bernama Rafli Okky Cahyadi yang bercerita kepada redaksi ParlemenOne.com tentang nasib malangnya yang menerima THR dengan jumlah yang tidak masuk akal. Pasalnya di tahun 2020 ini, ia hanya menerima THR dengan nominal Rp 100.000,00 atau Seratus Ribu Rupiah. 

Hal ini menjadi keresahan bagi Rafli karena semestinya hubungan antara pengusaha dan pekerja itu berjalan dengan baik agar output yang dihasilkan juga baik.

"Bila sampai terjadi perselisihan antara pekerja dan pengusaha, perundingan bipartit bisa menjadi solusi utama agar mencapai hubungan industrial yang harmonis. Hubungan industrial yang kondusif antara pengusaha dan pekerja menjadi kunci utama," ujar Rafli, Sabtu, (22/05/2020).

Ia pun mengutip UU No. 13/2003 tentang ketenagakerjaan pasal 1 angka 16 tertuang bahwa hubungan industrial  adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai nilai Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan hanya menerima THR sejumlah Rp 100 ribu maka ia merasa kaget karena nominalnya tidak masuk akal tentang kebijakan perusahaan yang jauh dari regulasi yang ditetapkan pemerintah.

"Merasa kaget dan tidak masuk akal apa yang dilakukan perusahaan tentang mekanisme THR jauh dari apa yang di tetapkan kementerian, dan menjadi tanda tanya besar apakah linier apa yang di berikan dan dilaporkan kan tentang mekanisme THR kepada pihak berwenang dalam hal ini Disnaker kota Depok," ujar Rafli.

Diketahui Rafli bekerja di PT Buana Mulia Indonesia yang berdomisili di Kelurahan Meruyung, Limo, Kota Depok. Hingga berita ini diterbitkan belum ada klarifikasi lebih lanjut dari perusahaan yang bersangkutan. (Soe)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment